Karakter Moral Sang Pemimpin

0 112

Jabatan bukanlah kehormatan, melainkan tanggung jawab dan mandat yang berarti butuh pengorbanan bukan mumpungisme (manupulasi kesempatan). Sebab tugas adalah amanat yang akan dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak, di hadapan Allah.

Oleh karenanya setiap pemimpin ataupun pemegang amanat haruslah orang yang mempunyai dua sifat, yaitu moral hafidzun dan ‘alim, yaitu sosok yang mampu menjaga kekayaan hasil bumi dan hasil bumi negara untuk kemaslahatan umat dan bangsa sekaligus mempunyai kemampuan memberdayakan secara proporsional sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki

Kedudukan tinggi yang diberikan kepada Nabi Yusuf AS adalah menteri keuangan. Beliau menjalankan tugasnya dengan dua karakter moral, yaitu; pertama hafidh (kecakapan menjaga), amanah, jujur dan dipercaya. Kedua, ‘alim (kemampuan intelektual), cerdik pandai, memiliki pengetahuan handal dalam menjalankan tugas-tugas.

Dua karakter moral tersebut merupakan pilar penyangga kesuksesan dalam setiap pekerjaan Nabi Yusuf AS. Perkataan beliau “jadikan aku bendaharawan negara” tidak lain dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan serta membantu mengatasi krisis yang melanda bangsa saat itu, disamping itu beliau memahami betul akan beratnya pangkat dan jabatan.

Beliau memilih jabatan itu karena ketulusan hati dan kebersihan jiwa, bukan karena mencari popularitas diri atau menimbun kekayaan atau ambisi kekuasaan. Sebab ternyata dengan dua karakter moral itu, beliau mampu mengeluarkan negara dan bangsa dari krisis yang menyengsarakan. Lantaran itulah Allah SWT tak segan-segan memberikan kepadanya posisi yang kuat dalam sebuah pemerintahan.

Umar bin Khatab RA pernah mengungkapkan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di akhirat nanti dengan kata katanya yang terkenal:

Seandainya ada seekor keledai terperosok di kota baghdad niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya, seraya akan ditanya: mengapa yak kau ratakan jalan untuknya?

Itulah satu dari ratusan contoh tentang beratnya tanggung jawab pemimpin di hadapan Allah kelak. Tanggung jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban yang dibebankan padanya. Semakin tinggi kedudukannya di masyarakat maka semakin tinggi pula tanggung jawabnya. Seorang pemimpin negara bertanggung jawab atas perilaku dirinya, kelurganya, saudara-saudaranya, masyarakatnya dan rakyatnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.